Crew Departemen Program : Producer  

Jumat, 11 Juni 2010

Ditulis oleh : Krisna Mulawarman


Producer atau produser, istilah dipergunakan dalam manajemen produksi program televise dan produksi program radio sekaligus. Meskipun memiliki tanggung jawab yang hampir sama, dalam struktur organisasi di produksi program radio dan produksi program televise, Produser memiliki posisi yang berbeda.

Hampir mirip dengan produser di produksi televisi/film/video, Produser program radio memiliki tanggungjawab terhadap sebuah program acara di radio, menjamin terselenggaranya program acara dalam sebuah siaran radio, sesuai dengan standart mutu acara yang telah ditetapkan oleh Program Director. Serta mendukung tujuan penyelenggaran siaran untuk mencapai jumlah pendengar dan usaha peningkatan pendapatan yang telah ditetapkan oleh station radio tersebut.

Dalam program televise atau dalam produksi film/video (Effendy, 2005: 60), predikat ini disandang oleh orang yang memproduksi sebuah film, bukan membiayai atau menanam investasi dalam sebuah produksi film. Tugas seorang produser adalah memimpin seluruh tim produksi sesuai tujuan yang diterapkan bersama, baik dalam aspek kreatif maupun manajemen produksi, sesuai dengan anggaran yang telah disepakati oleh Executive Producer(s).

Dalam struktur organisasi, produser program radio ada di bawah Program Director dan sejajar dengan beberapa jabatan lainnya, antara lain : Administration Program, Music Director, Script Writer serta Production. Hal ini berbeda dengan jabatan produser dalam produksi program televise/film/video yang memiliki posisi di top manajemen produksi.

Produser dalam program radio (selanjutnya disebut produser saja), sesuai dengan struktur organisasi, memiliki tanggung jawab dan tugas sesuai dengan arahan dari Program Director. Beberapa pekerjaan Produser yang berhubungan langsung dengan Program Director antara lain :

  1. Memberikan laporan secara berkala (mingguan atau bulanan) kepada Program Director .
  2. Melakukan evaluasi program siaran yang menjadi tanggungjawabnya, serta bisa memberikan usulan perbaikan maupun pengembangan suatu program acara.
  3. Menjadi penghubung antara Program Director dengan crew siaran lainnya untuk menjamin pelaksanaan program siaran sesuai dengan format siaran dan tujuan yang telah ditetapkan ( misalnya dengan Announcer, reporter, Operator Mixer/Phone, serta dengan narasumber, tamu atau Special Announcer).
  4. Mewakili Program Director menjalankan sebuah program acara dan memberikan keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan program acara dan materi pendukung program acara, apabila Program Director berhalangan.
  5. Membuat jadwal penyiar, operator serta penyesuaian apabila ada yang berhalangan atas persetujuan Program Director.


Selain bertanggungjawab dan melapor kepada Program Director, Produser memiliki tugas dan kewenangan terhadap pelenggaraan siaran yang berkaitan dengan crew siaran lainnya, yaitu : Announcer, reporter, Operator Mixer/Phone, serta dengan narasumber, tamu atau Special Announcer. Tugas dan kewenangan yang berkaitan langsung crew siaran ini, antara lain :

  1. Memastikan terselenggaranya program siaran beserta seluruh materi pendukung siaran yang diperlukan, misal : tema siaran, play list, narasumber, id's program, dsb.
  2. Mencatat pelaksanaan jam tugas penyiar dan operator setiap akhir bulan sebagai bahan bagi departemen keuangan dalam melakukan penghitungan gaji.
  3. Membuat laporan/evaluasi suatu produksi acara agar dapat dijadikan bahan dalam meningkatkan kualitas acara di masa mendatang.Melakukan koordinasi dengan staf di Departemen Program lainnya berkaitan dengan materi pendukung siaran.
  4. Melakukan koordinasi dengan staf di Departemen Program lainnya berkaitan dengan materi pendukung siaran.
  • Koordinasi dengan Scrip Writer untuk memastikan materi kata yang sesuai tema siaran yang telah disepakati.
  • Kemudian melakukan koordinasi dengan Music Director untuk memastikan play list lagu yang sesuai tema, serta sound effect yang akan mendukung tema.
  • Koordinasi dengan Production dilakukan untuk membuat Bumper In/Out, atau smash dan sound effect khusus.
  • Selanjutnya, koordinasi dengan Administration untuk memastikan segala administrasi yang berkaitan dengan proses siaran, missal : log book iklan, rencana siaran, dsb.
  • Koordinasi dengan operator telepohone untuk memastikan kontak dan kehadiran narasumber dan mencari penggantinya apabila berhalangan.
  • Sedangkan dengan operator mixer untuk memastikan play list telah disusun sesuai materi pendukung siaran.

AddThis Social Bookmark Button
Email this post


Mempersiapkan Transformasi Ke Era Digitalisasi  


Mark Ramsey, seorang konsultan radio di Amerika dalam salah satu posting di blognya memasang sebuah presentasi menarik tentang masa depan radio di era digital yang diberi judul 9 Rahasia Untuk Bertransformasi Secara Digital.

Menurut saya ini presentasi yang menarik sekali karena merangkum sejumlah tips penting buat orang radio yang ingin memahami dan mengikuti perkembangan yang terjadi saat ini di kalangan audiens. Silahkan lihat videonya di website hear2.com miliknya atau klik saja video yang saya pasang di akhir artikel ini.

Beberapa poin penting dari presentasi itu yang sangat menarik perhatian saya adalah:

  • Audiens kita sudah berubah. Mereka kini hidup di era dimana pilihan media luar biasa banyaknya dan perhatian mereka jadi mudah teralih. Saat seorang pendengar mematikan radio di mobilnya, misalnya karena sudah sampai di kantor, bisa jadi itulah saat terakhir ia mendengarkan radio kita, karena pilihan semakin banyak dan dengan mudah ia bisa beralih.Dengan kondisi ini, tantangan bagi kita orang radio adalah bukan membuat orang tidak lari dari kita, tapi bagaimana membuat mereka kembali pada kita.
  • Pelajari pola konsumsi media mereka dan untuk melakukan itu kita harus keluar dari radio dan masuk kembali dengan sudut pandang audiens kita.
  • Poin lain yang juga tak kalah menarik adalah kita harus menyadari bahwa bisnis kita saat ini bukan lagi sekedar bisnis radio. Ini adalah era konvergensi media. Bukan berarti radio telah mati. Justru tantangannya adalah bagaimana radio bisa menjadi bagian dari konvergensi itu.
  • Dengan kondisi seperti ini, musuh radio justru adalah rating atau peringkat atau survei atau apalah namanya. Ini karena kita cenderung menyamakan semua orang. Padahal ini adalah era dimana konsumen kita menjadi sangat individualistis.

Tantangannya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan mereka karena jelas mereka sudah enggan menjadi audiens yang pasif. Dengan makin banyaknya pilihan media, masihkah mereka mau kita atur dengan jadwal siaran? Maukah mereka menunggu jam tertentu untuk mendengarkan acara tertentu?

Mungkin anda akan berpikir bahwa fenomena ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat di Indonesia. Well menurut saya ini cara berpikir yang salah. Contoh saja. Siapa yang pernah menyangka bahwa banyak orang Indonesia yang saat ini tergila-gila pada facebook. Bayangkan betapa besar potensi audiens di facebook kalau kita tahu cara menarik perhatian mereka…

Fenomena facebook menurut saya menunjukkan bahwa kehadiran era media baru di Indonesia akan lebih cepat dari perkiraan kita dan kita harus siap mengantisipasinya.

Satu hal lagi, semua perubahan ini adalah tentang manusia, tentang audiens kita dan bukan tentang teknologi melainkan bagaimana teknologi itu digunakan. Melihat transformasi itu semata dari sudut pandang teknologi justru menurut saya salah besar!

Menarik sekali. Karena itulah saya sangat merekomendasikan anda untuk menyaksikan video berikut Mark Ramsey berikut ini:


AddThis Social Bookmark Button
Email this post


Karakteristik Inhouse Radio & Televisi  

Ditulis oleh : Krisna Mulawarman


In House Radio atau In House TV, istilah ini saya pergunakan merujuk pada keberadaan sebuah radio atau televisi internal yang siarannya didistribusikan melalui jaringan kabel bukan menggunakan transmiter.

Istilah In House Radio/Televisi tentu saja berbeda dengan istilah In House Production yang merujuk pada hasil produksi sendiri atau hasil karya kreatif dari sebuah stasiun radio maupun televisi yang diproduksi oleh crew stasiun itu sendiri. Bisa dikatakan In House Production adalah Production House Company yang dimiliki sebuah stasiun radio maupun televisi sendiri. Sebagai contoh adalah MNC (Media Nusantara Citra) yang merupakan In House Production-nya RCTI.


Saya sendiri lebih suka menyebut media ini sebagai In House Radio/Televisi karena ada beberapa karakter yang berbeda dengan radio/televisi komunitas, antara lain :


a. televisi ini disiarkan melalui kabel bukan melalui pancaran gelombang elektromagnetik melalui spektrum frekwensi televise

b. didirikan oleh komunitas tertentu, dengan jangkauan yang sangat terbatas hanya untuk kepentingan internal di lokasi tersebut

c. komunitas bukan berdasarkan geografis seperti lembaga penyiaran komunitas yang dibatasi coverage area-nya sekitar 10 km, tapi komunitas berdasarkan lokasi dan kepentingan internal yang lebih terbatas

d. menyalurkan materi siarannya secara khusus kepada audience-nya tanpa dipungut biaya, karena biaya operasional menjadi tanggung jawab institusi bersangkutan

e. karena sifatnya terbatas dengan segmen yang pasti, justru memungkinkan untuk memasukkan unsur komersial, sebagai media promosi kepada audience di komunitas tersebut


In House Radio atau In House Televisi bisa kita temui di beberapa tempat, antara lain : hotel, mall, supermarket, toko, rumah sakit, pabrik/gedung perkantoran, bandara, bahkan pesawat terbang dan juga kereta api. Tujuan pembuatan media In House Radio/Televisi ini tentu tidak terlepas dari fungsi media itu sendiri sebagai media pendidikan, informasi, hiburan dan juga sarana promosi. Sama seperti media komunikasi lainnya, In House Radio/Televisi memiliki karakteristik yang spesifik sekaligus merupakan kelebihan dan kekurangan dari media ini.

Kelebihannya :

a. In House Radio/Televisi ini materi siarannya didistribusikan melalui kabel bukan melalui pancaran gelombang elektromagnetik (transmitter), sehingga tidak tergantung oleh cuaca.

b. Biaya instalasi cenderung lebih murah dibandingkan dengan menggunakan transmitter. Biaya dipergunakan hanya untuk membeli kabel, televisi monitor, speaker, booster atau amplifier.

c. Menjangkau target sasaran dengan lebih selektif, karena audience yang menyimak hanya yang ada di lokasi tersebut, sehingga merupakan audience khusus yang sudah diketahui segmentasi-nya.

d. Program acara bisa dibuat lebih fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan yang lebih khusus.

e. Progarm acara bisa diisi dengan local content sesuai segmen dan target audience yang disasar.

f. Menarik perhatian audience, karena memiliki program acara yang berbeda dengan media radio/televisi komersial.

g. Memiliki potensi sebagai media promosi, karena segmen dan target audience-nya jelas.

h. Di beberapa lokasi (pesawat, kereta api, rumah sakit, ruang tunggu) media ini akan mendapatkan fokus perhatian yang baik dari audience, karena audience memiliki waktu tunggu yang lama.

i. Bisa menjadi prestise bagi penyelenggara siarannya, karena mampu menghadirkan siaran yang variatif, bermanfaat bagi audience, dan berbeda dengan media mainstream.


Kelemahannya :

a. Jangkauan terbatas, karena didistribusikan dengan jaringan kabel. Sehingga, coverage area-nya terbatas sepanjang jaringan kabel tersebut.

b. Hanya disimak oleh audience yang relatif lebih sedikit, hanya pada lokasi tersebut.(Meskupun ini bisa menjadi sebuah kelebihan juga karena justru segmen-nya jelas).

c. Di beberapa lokasi (hotel, mall, supermarket, toko) media ini cenderung disimak sambil lalu, sehingga fokus perhatian audience sedikit kurang.

d. Di banyak tempat media ini belum didukung dengan infrastruktur yang memadai, belum memiliki manajemen siaran yang baik serta tidak didukung oleh SDM yang memiliki kemampuan di bidang broadcasting.

AddThis Social Bookmark Button
Email this post


Broadcasting New's  

Mengenal Format Radio (Radio Station)

Ditulis oleh : Krisna Mulawarman

Membuat program radio tentu tidak hanya berdasar pada keinginan semata dari seorang Produser atau Program Director. Begitu ada keinginan untuk membuat sebuah program acara, langsung buat program acara baru. Atau ketika tahu di station radio lain ada acara baru yang ngetop kemudian latah ikut-ikutan membuat acara sejenis, sekedar untuk mengikuti trend. Pada akhirnya, acara yang dibuat tidak lagi sesuai dengan segmentasi, target audience, serta positioning yang telah ditetapkan oleh staion radio bersangkutan.

Ada banyak pertimbangan dalam pembuatan program acara radio, misalnya; acara seperti apa yang perlu dibuat, sesuai dengan segmentasi dan target audience-nya tidak, konsep acara pas atau tidak dengan positioning serta format stationnya, apa yang menjadi kelebihan program acara tersebut dibanding dengan program lainnya, siapa yang akan menjadi host atau narasumbernya, kapan sebuah program acara akan diluncurkan, dan masih banyak pertimbangan dalam pembuatan program radio.

Salah satu dasar pembuatan program acara yang penting adalah mengacu pada format station yang telah ditetapkan oleh radio station tersebut. Apa saja format station radio, dan bagaimana perwujudannya dalam program acara, tulisan ini akan memberikan gambaran dasar mengenai format station.

Munculnya pemograman radio sebenarnya diawali dengan munculnya aliran music Rock ‘n Roll yang berakar pada music Rhythm and Blues (R&B) pada tahun 1955. Saat itu kelompok music "Bill halley and the Commets" sukses dengan album "Rock Around the Clock" yang diputar di seluruh radio di Amerika Serikat dan menjadi album terlaris pada saat itu. Hal ini membuat para broadcasters mulai menyadari bahwa lagu-lagu baru yang sedang hits akan meningkatkan jumlah pendengarnya. Karena itulah kemudian muncul format Top 40 yang menekankan pada pemutaran lagu-lagu baru yang sedang laris. Format ini pula yang kemudian menjadi cikal bakal bagi munculnya format-format lain dan menentukan sebuah program suatu di radio station.

Beberapa format yang kemudian terkenal ke seluruh dunia menurut Michael C. Keith (1987) adalah Adult Contemporary, Album Oriented Rock, Beautiful Music, Children, Classical, Classic Hit, Contemporary Country, Contemporary Hit, Dance, Disco, Easy Listening, Ethnic, Jazz, Middle of the Rock, Mix, Modern Rock, News, News/Talk, Religious, Pop, Southern Rock, Top 40, Urban Contemporary, Talk, Rhythm and Blues, Oldies, Nostalgia, All Sports, All Weather, All Business, All Beatles, All Comedy, dan puluhan lagi.

Dari beberapa format station tersebut, empat di antaranya yang terpopuler dan di terapkan di berbagai radio seluruh dunia adalah :

1. Adult Contemporary


Format ini ditujukan untuk kaum muda dan dewasa dengan rentang umur sangat luas antara 25-50 tahun, serta berdaya beli tinggi. Dalam format ini, program siarannya antara lain meliputi musik pop masa kini, soft rock, balada, berita olah raga, ekonomi, serta politik. Format AC ini kemudian berkembang pula ke dalam format lain seperti Middle of the Road, Album Oriented Rock, dan Easy Listening.


2. Contemporary Hit Radio (CHR)/Top 40 Radio


Format ini ditujukan untuk remaja (ABG) yang berumur antara 12-20 tahun. Format ini bisa disebut sebagai format paling populer dengan program siaran yang berisi lagu-lagu Top40/Top 30, serta lagu baru dan terlaris. Program siaran beritanya berisisi seputar gossip idola dan tips praktis. Sebelum CHR awalnya format ini disebut Top 40 Radio. Dalam format CHR pemutaran musik mendapat perhatian yang sangat ketat, karena format ini hanya memutarkan lagu-lagu terkini, tidak memutarkan lagu lama, serta tidak memutar ulang sebuah lagu yang sama secara berdekatan waktunya (repetisi pemutaran lagu tidak sering).


3. All News/All Talks, Sports


All Talks lebih dulu hadir pada tahun 1960 di Los Angeles dengan konsep siaran talk show interaktif mengupas isu-isu lokal. All News hadir Kemudian tahun 1964 dimotori Gordon McLendon di Chicago dengan konsep berita bulletin 20 menit berisi berita lokal, regional, dan dunia. Sasaran radio ini kaum muda dan dewasa berumur 25-50 tahun, berdaya beli tinggi. Berita dan bincang ekonomi-politik menjadi acara unggulan dalam format ini.


4. Classic/Oldies/Nostalgia


Format ini ditujukan untuk kalangan dewasa dan tua berumur 35-60 tahun. Memutar lagu-lagu klasik, apresiasi penyanyi dan lirik lagu lebih penting dari lagunya. Menyiarkan berita kilas balik masa lalu, serta berita mistik.Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat turut pula mempengaruhi perkembangan format radio station.

Masih banyak lagi format station yang berkembang dari tahun 1950-an sampai tahun 2000-an ini. Dimana pada masing-masing dekade memiliki format station yang tersendiri yang banyak diminati oleh audience-nya. Beberapa format station terlihat berkembang pula di tahun-tahun berikutnya.

Dalam perkembangan terakhir seiring dengan teknologi satelit dan internet (radio streaming), yang kemudian menjadi alternative baru dalam menikmati siaran radio. membuat perkembangan format station radio menjadi sedemikian pesat. Bahkan perkembangan teknologi ini yang lebih maju dibandingkan dengan radio tradisional (AM/FM) memunculkan teknologi pendukung lainnya berupa media baru yang disebut sebagai media digital audio entertainment seperti : podcasting, digital music players, ponsel, termasuk di dalamnya adalah radio satelit dan radio internet (streaming radio).

:: Buku acuan : Michael C. Keith, The Radio Station Broadcast Satellite & Internet, 7th Edition, Focal Press, Oxford, UK, 2007

AddThis Social Bookmark Button
Email this post


Design Website Radio Yobel Fm Oleh :Dhimas HR)